Kisah nabi Yusuf adalah salah satu kisah populer di dalam al-Qur’an. Kisahnya disajikan berbeda dari kisah-kisah yang lain. Jika kisah nabi Adam, nabi Musa, dan nabi-nabi yang lain dikisahkan secara terpisah yang tersebar dalam beberapa surat dalam al-Qur’an, kisah nabi Yusuf dikisahkan secara urut berurutan, episode per episode, bahkan memenuhi satu surat tersendiri, yaitu surat Yusuf.
Ketika membaca kisah nabi Yusuf dalam al-Quran, sebagian orang sering merasa kesal terhadap saudara-saudara nabi Yusuf. Mereka dianggap tokoh antagonis yang tega mencelakai Nabi Yusuf, menjermuskannya ke dalam sumur, dan membohongi ayahnya, Nabi Ya’qub.
Di tengah-tengah kekesalan ini, ternyata ada sebagian ahli tafsir, misalnya Ibnu Zayd, yang berpendapat bahwa saudara-saudara nabi Yusuf adalah para nabi yang mendapat wahyu dari Allah SWT. (Muhammad al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Beirut: Muassasah al-Risalah, 130) Salah satu argumentasi yang ia kemukakan adalah QS. Al¬-Baqarah [2]: 136 yang berbunyi:
قُولُوۤا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡنَا وَمَاۤ أُنزِلَ إِلَىٰۤ إِبۡرَ ٰهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِیلَ وَإِسۡحَـٰقَ وَیَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَاۤ أُوتِیَ مُوسَىٰ وَعِیسَىٰ وَمَاۤ أُوتِیَ ٱلنَّبِیُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ أَحَدࣲ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ
Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan untuk beriman kepada-Nya, kepada al-Qur’an, dan kepada apa yang diturunkan kepada nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub, dan Asbāṭ. Point penting dalam ayat ini adalah siapa yang dimaksud dengan Asbāṭ yang juga disebut menerima wahyu dalam ayat tersebut?
Di dalam kitab Irsyad Aql al-Salim Ila Mazaya al-Kitab al-Karim karya Syaikh Abi Suud al-Hanafi, disebutkan bahwa kata Asbāṭ dalam ayat tersebut juga mungkin untuk ditafsiri dengan anak-anak Ya’qub yang berjumlah 12 (Yusuf dan saudara-saudaranya). Jika demikian, maka saudara-saudara nabi Yusuf adalah para nabi. Sebab, definisi nabi adalah orang yang Allah pilih untuk menerima wahyu.
Namun, pandangan ini tidak disepakati oleh para ulama. Mereka menolak anggapan tersebut dengan berbagai alasan. Pertama, seandainya saudara-saudara nabi Yusuf adalah para nabi maka tidak mungkin mereka mencelakakai nabi Yusuf dan berani berbohong kepada ayahnya, karena semua itu dapat menciderai sifat kemaksuman yang dimiliki oleh para nabi.
Kedua, al-Alusi mengatakan bahwa kata Asbāṭ tidak tepat jika ditafsiri dengan anak-anak Ya’qub yang 12. Sebab seacara bahasa, Asbāṭ berasal dari kata sibt yang berarti satu pohon besar yang memiliki banyak cabang, bukan menunjuk pada makna individu, tetapi pada kelompok keturunan, sebagaiman term Bani Adam dan Bani Israil. (Al-Alusi, Tafsir Ruh al-Ma’ani, Beirut: Dar al-Fikr, 218). Hal ini sebagaimana dalam QS. Al-A’raf [7]:160 yang berbunyi:
وَقَطَّعْنٰهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ اَسْبَاطًا اُمَمًاۗ
Kami membagi mereka (Bani Israil) menjadi dua belas suku yang tiap-tiap mereka berjumlah besar.
Ketiga, tidak ada satupun keterangan, baik dalam al-Qur’an ataupun hadis yang secara eksplisit menyatakan saudara-saudara Nabi Yusuf adalah para nabi. Sehingga menafsiri kata Asbāṭ dalam QS. Al¬-Baqarah [2]: 136 dianggap terlalu gegabah serta tidak dapat dipertanggungjawabkan.


