Malam Nisfu Syaโban merupakan malam yang sangat istimewa. Para ulama bahkan menyebutnya dengan banyak nama. Dalam kitab Mฤลผฤ fฤซ Syaโbฤn, Sayyid Muhammad al-Maliki mengutip pendapat Abu al-Khair al-Thaliqani bahwa Malam Nisfu Syaโban memiliki dua puluh dua nama. Banyaknya nama tersebut menunjukkan banyaknya kemuliaan yang terkandung di dalamnya. Di antara nama-nama itu adalah sebagai berikut.
Malam Nisfu Syaโban disebut Lailah al-Mubฤrakah (malam keberkahan), karena pada malam itu keberkahan dilimpahkan, doa-doa didengar, dan ampunan dicurahkan. Dalam salah satu keterangan disebutkan bahwa malam ini dinamai malam keberkahan karena para malaikat berdampingan dengan manusia, sehingga suasananya dipenuhi rahmat dan keberkahan dari Allah.
Malam ini juga dikenal sebagai Lailah al-Takfฤซr (malam penghapus dosa). Imam Taqiyuddin al-Subki menjelaskan bahwa dosa-dosa selama satu tahun diampuni pada malam Nisfu Syaโban, sebagaimana dosa-dosa selama sepekan dihapus pada hari Jumat. Karena itu, Nisfu Syaโban menjadi momentum penting untuk membersihkan diri dan menyucikan hati sebelum memasuki bulan Ramadan.
Selain itu, Nisfu Syaโban disebut pula sebagai Lailah al-Ijฤbah (malam dikabulkannya doa). Malam ini dipandang sebagai malam harapan bagi hamba-hamba Allah yang memohon ampunan, keselamatan, dan kebaikan hidup. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Ibnu โUmar bahwa:
ุฎูู ูุณู ููููุงูู ููุง ุชูุฑูุฏูู ูููููููู ุงูุฏููุนูุงุกู: ููููููุฉู ุงููุฌูู ูุนูุฉูุ ููุฃูููููู ููููููุฉู ู ููู ุฑูุฌูุจูุ ููููููููุฉู ุงููููุตููู ู ููู ุดูุนูุจูุงููุ ููููููููุฉู ุงููููุฏูุฑูุ ููููููููุชูุง ุงููุนููุฏููููู.
โAda lima malam di mana doa tidak akan ditolak: malam Jumat, malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Syaโban, malam Lailatul Qadar, dan dua malam hari raya.โ
Bahkan, dalam ungkapan sebagian ulama, Malam Nisfu Syaโban disebut sebagai hari raya para malaikat, karena pada malam itu langit dipenuhi dengan ibadah, dan para malaikat tidak beristirahat sebagaimana manusia.
Namun, yang terpenting untuk dicatat, banyaknya nama Malam Nisfu Syaโban bukanlah untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan. Sebab, pertanyaan paling mendasar dari semua kemuliaan itu adalah: dengan hati seperti apa kita ingin menyambutnya?
Ust. Jamil Fuady, M. Ag (Ketua Komisi Infokom MUI Surabaya)


