Oleh: Drs. Kh. Muhaimin Ali (Ketua Umum MUI Kota Surabaya)
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Lebih dari itu, ia merupakan momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri), mengevaluasi perjalanan hidup yang telah dilalui, sekaligus memperbarui tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang. Peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan adalah bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi dengan keberanian, keyakinan, dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Secara bahasa (lughawi), kata hijrah berasal dari هجر – يهجر – هجرة yang berarti meninggalkan, berpindah, atau menjauh dari sesuatu. Adapun dalam pengertian syariat, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, serta dari kehidupan yang jauh dari nilai-nilai ilahiah menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah SWT.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.”
(HR. al-Bukhari)
Karena itu, makna hijrah sesungguhnya sangat luas. Hijrah adalah proses perubahan diri yang berlangsung terus-menerus menuju kondisi yang lebih baik, baik dalam aspek keimanan, akhlak, cara berpikir, maupun kontribusi sosial.
Al-Qur’an memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjuang di jalan Allah. Allah SWT berfirman:
> إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 218)
Dalam konteks kehidupan saat ini, semangat hijrah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk perubahan positif. Setidaknya ada tiga sikap yang perlu kita bangun dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Pertama, berhijrah dari mental pesimis menuju pribadi yang optimis dan percaya diri
Tidak sedikit orang yang terhambat untuk maju bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena kurang percaya pada potensi yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Mereka merasa tidak mampu sebelum mencoba, ragu sebelum melangkah, dan menyerah sebelum berjuang.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
> إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Demikian pula dalam hadis qudsi Allah berfirman:
> أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ayat dan hadis tersebut mengajarkan bahwa perubahan selalu diawali dari perubahan cara pandang dan keyakinan dalam diri. Karena itu, memasuki tahun yang baru ini, mari kita bangun optimisme, memperkuat semangat berprestasi, serta menumbuhkan keyakinan bahwa dengan ikhtiar dan tawakal, masa depan yang lebih baik dapat diraih.
Kedua, berhijrah dari sikap pasif menuju pribadi yang produktif
Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk terus bergerak, berkarya, dan memberi manfaat. Seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus mampu menjadi pelaku kebaikan dan agen perubahan di tengah masyarakat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Dalam sebuah hadis yang masyhur juga disebutkan:
> مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ
“Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.”
(HR. al-Hakim)
Semangat hijrah menuntut kita untuk meninggalkan kebiasaan menunda pekerjaan, berpangku tangan, dan menunggu perubahan tanpa usaha. Tahun baru hendaknya menjadi titik awal lahirnya pribadi-pribadi yang lebih produktif, kreatif, inovatif, dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan sekitarnya.
Ketiga, berhijrah dari sikap merusak menuju sikap membangun
Islam mengajarkan tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang lebih baik, bukan menciptakan kerusakan. Baik kerusakan moral, sosial, lingkungan, maupun persatuan umat, semuanya bertentangan dengan ajaran Islam.
Allah SWT berfirman:
> وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Allah tidak menyukai kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah: 205)
Dan firman-Nya:
> إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Oleh karena itu, semangat hijrah harus melahirkan pribadi-pribadi yang menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah; menjadi perekat persatuan, bukan penyebar perpecahan; menjadi pembangun peradaban, bukan perusak tatanan kehidupan.
Pada akhirnya, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tidak boleh berhenti pada seremoni, spanduk, atau sekadar ucapan selamat semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana semangat hijrah mampu melahirkan perubahan nyata dalam diri kita.
Mari menjadikan tahun baru ini sebagai momentum untuk berhijrah dari pesimisme menuju optimisme, dari kepasifan menuju produktivitas, dan dari perilaku merusak menuju sikap membangun. Sebab hakikat hijrah bukanlah berpindah tempat, melainkan berpindah menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT menjadikan tahun 1448 Hijriah sebagai tahun penuh keberkahan, kemajuan, dan kebaikan bagi umat Islam, bangsa Indonesia, dan seluruh masyarakat. Aamiin.


