Monday, April 13, 2026
HomeKabar MUIMenyambut Bulan Suci Ramadhan

Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Jika bulan Ramadhan sudah tiba, maka Rasulullah SAW sering kali menyambut dengan ucapan: Marhaban Ya Ramadhan “selamat datang bulan suci Ramadhan” hai orang yang mensucikan!

Para Sahabat bertanya kepada beliau:

“Siapakah orang yang mensucikan itu, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab:

اَلْمُطَهِّرُ شَهْرُ رَمَضَانَ يُطَهِّرُنَا مِنَ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِ

“Orang yang mensucikan itu ialah bulan Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan maksiat”

Dalam suatu pertanyaan yang dimajukan oleh Abu Amamah kepada Rasulullah, supaya beliau menerangkan ibadah yang akan memasukkan seseorang ke dalam sorga, Nabi Muhammad Saw menjelaskan:

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ (رواه أحمد، النسائي، والحاكم))

“Lakukanlah puasa, karena (pahala) puasa itu tidak ada bandingannya”. (riwayat Imam Ahmad, Imam Nasa-i dan  Imam Hakim).

Tatkala Abu Amamah mengajukan pertanyaan yang serupa untuk kedua kalinya, jawaban Rasulullah tetap: laksanakanlah puasa.

Keutamaan bulan suci Ramadhan

Dalam suatu Hadis yang lain, yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Rasulullah SAW Bersabda

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ فِيهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ خِصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ  وَخِصْلَتَيْنِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخِصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَتَسْتَغْفِرُونَه وَأَمَّا الْخِصْلَتَانِ اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ

Bulan Ramadhan permulaannya (membawa) rahmat; pertengahannya (memberikan) ampunan (maghfirah) dan ujungnya (memberikan) kebebasan dari api neraka (itqun minannar). Barangsiapa yang meringankan budaknya pada bulan Ramadhan, maka Allah Swt memberikan ampunan kepadanya dan memerdekakannya dari neraka. Oleh sebab itu, dalam bulan Ramadhan perbanyaklah melakukan empat perkara; dua perkara untuk memperoleh ridha Ilahi, dan dua perkara lagi merupakan hajat (kehidupan) kamu. Adapun dua perkara untuk memperoleh ridha Allah ialah mengucapkan Kalimah Syahadah: La Ilaha illallah (Tidak ada Tuhan kecuali Allah) dan memohonkan ampunanNya (istighfar). Dan dua perkara lain yang menjadi hajat kehidupan ialah memohonkan untuk dimasukkan (kelak) ke dalam surga dan memohonkan perlindungan dari (siksa) neraka.

(Hadis Ibnu Khuzaimah dari Salman al Farisy).

Selanjutnya Rasulullah membagi keutamaan bulan Ramadhan kepada tiga tahap, yang masing-masing mempunyai keutamaan sendiri-sendiri, tetapi terpadu antara yang satu dengan yang lain.

(1) Rahmat

Tahap kesatu, yaitu sepuluh hari yang pertama ialah Rahmat, karunia.

Dalam periode itu, Allah Swt mencurahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang mulai berbakti kepadaNya, melaksanakan ibadah puasa, yang dilakukan dengan ikhlas loyalitas, disiplin, karena hanya diketahui oleh Allah Swt sendiri dan orang-orang yang bersangkutan.

Setiap hamba yang mendapat rahmat Allah akan merasakan kenikmatan, kelapangan, kesegaran, kebahagiaan, pengharapan dan semakin mantap dalam menghadapi kehidupan dan perjuangan.

Di dalam Al-Quran, surat Al-Furqan, ayat 63 s/d 77, diperinci rahmat yang akan diterima oleh seorang Ibadur-Rahman, kepada 16 macam keutamaan, sbb:

  1. Rendah hati dalam berjalan dan bersikap di muka bumi (ayat 63)
  2. Membalas kebodohan dengan kedamaian, bukan emosi (ayat 63)
  3. Menghidupkan malam dengan ibadah (shalat malam) (ayat 64)
  4. Takut akan azab neraka dan selalu memohon perlindungan kepada Allah (ayat 65–66)
  5. Sederhana dalam membelanjakan harta, tidak boros dan tidak kikir (ayat 67)
  6. Mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan-Nya (ayat 68)
  7. Menjaga nyawa manusia, tidak membunuh tanpa alasan yang benar (ayat 68)
  8. Menjaga kehormatan diri, tidak berzina (ayat 68)
  9. Bersungguh-sungguh dalam taubat, iman, dan amal saleh (ayat 70–71)
  10. Tidak memberi kesaksian palsu (ayat 72)
  11. Menjauh dari perbuatan sia-sia, menjaga kehormatan diri (ayat 72)
  12. Mau menerima peringatan Allah, tidak tuli dan buta terhadap ayat-Nya (ayat 73)
  13. Berdoa untuk keluarga yang saleh, pasangan dan keturunan penyejuk mata (ayat 74)
  14. Berorientasi pada kepemimpinan takwa, ingin menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa (ayat 74)
  15. Balasan surga dengan tempat yang tinggi di surga atas kesabaran mereka, disambut dengan penghormatan dan keselamatan (ayat 75-76)
  16. Ibadah adalah bentuk penghambaan kepada Allah. Siapa yang mendustakan ayat-Nya akan mendapat azab yang kekal (ayat 77).

(2) Ampunan Allah

Periode sepuluh hari yang kedua diliputi oleh ampunan dan maghfirah Allah. Tentu saja buat orang-orang yang mendekatkan diri (taqarrub) kepada Rabul Jalali Wal Ikram, terutama dengan melaksanakan ibadah puasa dan amal-amal lainnya, seperti shalat tarawih di waktu malam, i’tikaf, tilawatul Qur-an, sedekah dan amal-amal lainnya.

Dalam suatu Hadis diterangkan, bahwa faktor-faktor yang merangsang dan mendorong manusia untuk melakukan kejahatan dikurangi dan dikendalikan selama bulan Ramadhan. Dalam suatu Hadis ditegaskan “dibuka pintu sorga, ditutup pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan.”

Ampunan Allah itu hanyalah akan dicurahkan kepada orang-orang yang melaksanakan amal dalam bulan Ramadhan, sesuai dengan Sunnatullah bahwa setiap manusia hanyalah akan mencapai suatu perubahan atas usaha-nya sendiri, sebab Allah Swt sudah menganugerahkan kepada hambaNya dua kekuatan; pertama akal, kedua ikhtiar.

(3) Kebebasan dari api neraka

Pada babak selanjutnya, yaitu sepuluh hari yang ketiga adalah puncak dari segala rahmat yang akan dilimpahkan oleh Allah Swt kepada hambaNya yang khusyu’, tekun dan taat melaksanakan ibadah. Lebih-lebih apabila dapat menemukan malam Lailatul Qadar, yang menurut keterangan suatu Hadis terjadi di salah satu malam pada sepuluh hari yang terakhir itu. Ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba jika bertepatan dengan malam barkah itu senilai dengan beramal 1000 bulan, atau lebih-kurang selama 84 tahun.

Selain hal diatas bulan Ramadhan juga dapat meningkatkan sikap mental spiritual bagi orang-orang yang beriman. Pada Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dihimbau supaya setiap Mukmin meningkatkan dua sikap mental.

Pertama, supaya konsisten mengamalkan dan menghayati Kalimah Syahadah, yaitu kepercayaan dan tekad yang bulat (iman) atas Kemaha Kuasaan Allah Swt, yang harus dijadikan fondasi dalam kehidupan dan perjuangan. Kemudian dibarengi dengan permohonan ampunan (istighfar) kepada Allah SWT, yang pasti mengampuni kesalahan insani, walaupun “kesalahan dan dosa sebesar bumi dan langit”. Dilihat dari sudut lain, sikap jiwa yang demikian akan menghilangkan ragu-ragu dan putus-asa dan memupuk semangat pengharapan, ar-raja’, optimisme.

Kedua, supaya selalu beribadah dan menadahkan tangan kepada Mujibas Sailin (Yang Memperkenankan permohonan) agar kelak mendapat tempat yang aman-tenteram dan bahagia (sorga) di akhirat dan dijauhkan dari azab api neraka. Sebagaimana doa yang selalu kita baca sehari-hari yang dikenal dengan doa sapu jagat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”

Ketiga Suara hati nurani membentuk kesadaran diri

Setiap mukmin yang menyadari sepenuhnya nilai-nilai ibadah dan amaliah yang terkandung dalam bulan Ramadhan itu tentulah merindukan supaya dikaruniai Allah Swt saat-saat yang demikian sepanjang zaman. Suara hati nurani yang demikian, dilukiskan oleh Rasulullah dalam suatu Hadis:

لَوْ يَعْلَمُ أُمَّتِي مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّوْا أَنْ تَكُونَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ (حديث)

“Kalau lah ummat saya mengetahui (nilai-nilai) bulan Ramadhan itu, pastilah mereka mengharapkan supaya seluruh (bulan) dalam setahun terdiri dari bulan Ramadhan”.

Tentu saja hal itu tidak mungkin!

Oleh sebab itu, manfaatkan bulan Ramadhan yang telah datang ini untuk meningkatkan ibadah dan amal sebab belum tentu bulan Ramadhan tahun depan ini kita mendapat kesempatan lagi. Siapa tahu pada waktu itu kita sudah dipanggil menghadap Rabbu Jalali Wal Ikram.

 

Edisi Ramadhan 1447 H/ 2026 M

Drs. KH. Muhaimin Ali
Drs. KH. Muhaimin Ali
Ketua Umum MUI Kota Surabaya
مقالات ذات صلة

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru