Uang yang ada sekarang adalah uang fiat (fiat money) yang sudah tidak menggunakan standar emas lagi. Karena itu pembahasan uang fiat adalah pembahasan kontemporer karena baru muncul setelah runtuhnya sistem Bretton Woods pada tahun 1970-an. Hal ini juga disinggung oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili
وبما أن هذا النظام ظهر حديثاً بعد الحرب العالمية الأولى، فلم يتكلم فيه فقهاؤنا القدامى، وقد بحث فقهاء العصر حكم زكاة هذه النقود الورقية
“Sistem ini baru muncul setelah perang dunia pertama sehingga para ulama’ fiqh terdahulu belum membicarakannya. Sedangkan para ulama’ kontemporer telah membahas hukum zakat uang kertas ini”.
Syaikh Wahbah Az-Zuhaili setelah itu menegaskan terkait zakat pada uang fiat money ini dalam kitab Al-Faqhul Islami
والحق وجوب الزكاة فيها؛ لأنها أصبحت هي أثمان الأشياء، وامتنع التعامل بالذهب، – فلا يصح القول بوجود اختلاف في زكاة هذه النقود. والقول بعدم الزكاة فيها لاشك بأنه اجتهاد خطأ؛ لأنه يؤدي في النتيجة البينة ألاّ زكاة على أخطر وأهم نوع من أموال الزكاة
Pendapat yang benar adalah wajibnya zakat dalam uang kertas karena telah menjadi mata uang dari komoditas dan kita sudah tidak menggunakan emas sebagai uang. Tidak sah pendapat yang mengatakan ada khilaf (perbedaan ulama’) akan kewajiban zakat pada jenis uang ini. Pendapat yang mengatakan tidak wajib zakat atas uang kertas adalah ijtihad yang keliru karena mengakibatkan tidak adanya zakat atas harta yang paling penting yang ada saat ini sebagai objek zakat.
Senada dengan Az-Zuhaili, dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah jugs disebutkan
إِنَّ مِمَّا لاَ شَكَّ فِيهِ أَنَّ الزَّكَاةَ فِي الأَْوْرَاقِ النَّقْدِيَّةِ وَاجِبَةٌ، نَظَرًا لأَِنَّهَا عَامَّةُ أَمْوَال النَّاسِ وَرُءُوسُ أَمْوَال التِّجَارَاتِ وَالشَّرِكَاتِ وَغَالِبُ الْمُدَّخَرَاتِ، فَلَوْ قِيل بِعَدَمِ الزَّكَاةِ فِيهَا لأََدَّى إِلَى ضَيَاعِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ، وَقَدْ قَال اللَّهُ تَعَالَى: {وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِل وَالْمَحْرُومِ} (3) وَلاَ سِيَّمَا أَنَّهَا أَصْبَحَتْ عُمْلَةً نَقْدِيَّةً مُتَوَاضَعًا عَلَيْهَا فِي جَمِيعِ أَنْحَاءِ الْعَالَمِ، وَيَنْبَغِي تَقْدِيرُ النِّصَابِ فِيهَا بِالذَّهَبِ أَوِ الْفِضَّةِ (1) .
[مجموعة من المؤلفين، الموسوعة الفقهية الكويتية، ٢٦٧/٢٣]
“Kewajiban zakat atas uang kertas tidak diragukan lagi. Hal ini dikarenakan uang kertas telah menjadi harta utama mayoritas manusia dan menjadi modal utama dalam perdagangan dan perusahaan serta menjadi mata uang yang berlaku di seluruh negara. Pendapat tidak wajibnya zakat atas uang kertas akan menyebabkan hilangnya hak utama fakir dan miskin. Hal ini sangat bertentangan dengan firman Allah”Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”(QS. Adz-Dzariyat: 19)24
Dalam kitab-kitab Madzhab Syafi’i kontemporer juga sama. Di antaranya dalam kitab شرح الياقوت النفيس berikut
“والأوراق المالية -أو العملة الورقية التي يتعامل بها الناس اليوم- التحقيق أن لها حكم النقدين”.
“Uang kertas yang digunakan oleh manusia saat ini secara pasti memiliki hukum yang ada pada dinar dan dirham”
Begitu pula di beberapa fatwa kontemporer. Di antaranya adalah Darul Ifta’ berikut
أوراق البنك نوت المذكورة المتعامل بها الآن بين الناس بمصر هي مستندات ديون، والمعاملة بها من قبيل الحوالة، ودين الأوراق المذكورة من أقوى الديون، وهو بمنزلة الوديعة، بل قبضه أقوى من قبض الوديعة، فيجب فيه تعجيل الزكاة؛ لأن الدائن هنا قادر على قبضه في كل وقت، وحينئذ تجب الزكاة في أوراق البنك نوت متى بلغت قيمتها نصابًا خاليًا عن الحوائج الأصلية، ويجوز إخراج الزكاة من عينها أو من قيمتها ذهبًا أو فضة.
Majma’ al-Fiqh Islami sebagai berikut
وجوبُ زكاةِ الأوراق النقديَّة إذا بلغَتْ قيمتُها أدنى النِّصَابينِ مِن ذهبٍ أو فضَّة- مجلة مجمع الفقه الإسلامي
Darul Ifta’ Jordania
فالذي نراه أن الأوراق النقدية تأخذ حكم الذهب والفضة من تحريم الربا ووجوب الزكاة وغيرهما
Saya tidak memungkiri selalu ada celah untuk menghindari kewajiban zakat. Apalagi hilah untuk zakat sangat mudah dibandingkan pajak. Namun jika celah tidak wajibnya zakat dalam uang kita sebarkan akan berdampak besar hilangnya hak fakir miskin. Uang senilai 271T tinggal kita depositokan dan kita nikmati hasilnya tanpa harus bayar zakat. Tapi para petani harus kita tuntut untuk selalu bayar zakat 5-10% dari hasil pertaniannya setiap kali panen.
NB : Cara perhitungan zakat tabungan, deposito dan uang kertas bisa dibaca di halaman 174-176 di buku Pengantar Lengkap Zakat Kontemporer


